Kamis, 16 Juli 2015

Malam Takbiran

Malam takbiran. Yaaa malam takbiran. Malam yang menggetarkan hati, rasa senang dan sedih bergelut dalam hati. Senang karena esoknya hari kemenangan, tapi juga sedih karena Ramadhan baru saja lewat.
Gema takbir makin menggetarkan suasana. Dan semua apa yang dirasakan dalam hati, dalam jiwa, semakin berasa.
Gema takbir tak pernah berubah. Suara indah takbir pun tak berubah setiap tahunnya .
Yg berubah hanya keadaan ..

Malam takbir kali ini rasanya hati tersayat, dan batin digetarkan oleh gema takbir yang bertalu-talu. Entah mengapa, takbir umumnya menjadi pengingat kenangan-kenangan manis mengenai rumah dan keluarga .

Selama ini saya mungkin bisa disebut kurang bersyukur. Karna saya selalu lebaran di rumah dan masih mempunyai keluarga yang lengkap .
Dan saat saya tahu seseorang yang sudah puluhan tahun di setiap momen takbiran/idul fitri tanpa seorang ibu. Hati ini merinding, sakit, terharu dan bahkan mulai ngebayangin betapa sedih hatinya disaat orang-orang merayakan kemenangan ini.
Ingin rasanya menggantikan semua aer mata kesedihannya dengan sejuta senyuman. Tapi semua itu tak akan pernah mampu .

Mungkin hanya kenangan yang tersisa dalam dirinya, kenangan yang selalu maknai dengan positif. Ibunya memang pasti tidak bisa hadir dalam keseluruhan hidupnya. Takdirnya anak dan ibu pasti akan berpisah secara jasad. Akan tetapi jiwa mereka adalah satu, ada jiwa ibu yang bersemayam dalam jasadnya

Hanya doa yang saya punya untuk dipanjatkan kepada Allah SWT, mudah-mudahan amal baktimu diterima di sisi-Nya dan kealpaan manusiawi bisa mendapatkan ampunan oleh-Nya.
Amiiiin ....