Bisakah kita pikirkan dan rencanakan ????
Banyak manusia yang tidak bisa bisa membedakan antara nasib dan takdir, nasib bisa dirubah oleh manusia, kalaupun itu harus dengan ijin dari Yang Maha Kuasa, karena Tuhan berkata *tidak akan kurubah nasib seseorang, ketika ia sendiri tidak mau merubahnya *, Bahasa Tuhan ini memberi isyarat bahwa Tuhan memberi ijin kepada manusia untuk merubah nasibnya dengan kerja keras dan doa. Sedangkan takdir milik Tuhan semata.
Tuhan sudah memberi isyarat, bahwa nasib manusia bisa dirubah ketika manusia mempunyai kemauan, usaha dan upaya tak kenal lelah. Tuhanpun telah memberi contoh terhadap kegagalan yang dialami oleh Adam dan Hawa. Tuhan memberi hak pada manusia untuk “ SUKSES”, Tuhanpun memberi hak untuk merubah “GAGAL” menjadi “SUKSES”. Adanya bahasa Tuhan, memperjelas bahwa setiap orang punya hak untuk merubah “KEGAGALAN “ menjadi “ KESUKSESAN”
Harapan yang tidak sesuai dengan kenyataan, diartikan “ GAGAL”, hampir semua mansusia mengartikan “ SATU KEGAGALAN” sebagai “ SEMUA KEGAGALAN”, sehingga tertutup semua akses untuk munculnya kebangkitan. Secara tidak sadar kontaminasi hati terhadap hal ini menghasilkan persepsi yang menimbulkan asumsi yang berujung pada kesimpulan, bahwa “ GAGAL YANG SATU MERUPAKAN KEGAGALAN UNTUK SEMUANYA”, akhirnya manusia punya sikap untuk mendiskreditkan Tuhan, bahwa ini adalah semua hasil karya Tuhan. Kegagalan adalah hasil karya manusia, dan siapapun mengalaminya, siapapun dia. Kegagalan, bisa diartikan sebagai musibah, ujian, cobaan, bencana bahkan hikmah.
Hmm Nasib pada umumnya digunakan untuk bagian yang diterima manusia baik berupa kebaikan atau keburukan, kesenangan atau kesusahan. Sedangkan takdir tidak hanya mencakup hal-hal yang terjadi pada manusia namun ia juga yang terjadi pada seluruh makhluk lainnya di alam ini sejak zaman azali dan sudah dituliskan di Lauh Mahfuzh. Sehingga nasib adalah bagian dari takdir.
Banyak manusia yang tidak bisa bisa membedakan antara nasib dan takdir, nasib bisa dirubah oleh manusia, kalaupun itu harus dengan ijin dari Yang Maha Kuasa, karena Tuhan berkata *tidak akan kurubah nasib seseorang, ketika ia sendiri tidak mau merubahnya *, Bahasa Tuhan ini memberi isyarat bahwa Tuhan memberi ijin kepada manusia untuk merubah nasibnya dengan kerja keras dan doa. Sedangkan takdir milik Tuhan semata.
Tuhan sudah memberi isyarat, bahwa nasib manusia bisa dirubah ketika manusia mempunyai kemauan, usaha dan upaya tak kenal lelah. Tuhanpun telah memberi contoh terhadap kegagalan yang dialami oleh Adam dan Hawa. Tuhan memberi hak pada manusia untuk “ SUKSES”, Tuhanpun memberi hak untuk merubah “GAGAL” menjadi “SUKSES”. Adanya bahasa Tuhan, memperjelas bahwa setiap orang punya hak untuk merubah “KEGAGALAN “ menjadi “ KESUKSESAN”
Harapan yang tidak sesuai dengan kenyataan, diartikan “ GAGAL”, hampir semua mansusia mengartikan “ SATU KEGAGALAN” sebagai “ SEMUA KEGAGALAN”, sehingga tertutup semua akses untuk munculnya kebangkitan. Secara tidak sadar kontaminasi hati terhadap hal ini menghasilkan persepsi yang menimbulkan asumsi yang berujung pada kesimpulan, bahwa “ GAGAL YANG SATU MERUPAKAN KEGAGALAN UNTUK SEMUANYA”, akhirnya manusia punya sikap untuk mendiskreditkan Tuhan, bahwa ini adalah semua hasil karya Tuhan. Kegagalan adalah hasil karya manusia, dan siapapun mengalaminya, siapapun dia. Kegagalan, bisa diartikan sebagai musibah, ujian, cobaan, bencana bahkan hikmah.
Hmm Nasib pada umumnya digunakan untuk bagian yang diterima manusia baik berupa kebaikan atau keburukan, kesenangan atau kesusahan. Sedangkan takdir tidak hanya mencakup hal-hal yang terjadi pada manusia namun ia juga yang terjadi pada seluruh makhluk lainnya di alam ini sejak zaman azali dan sudah dituliskan di Lauh Mahfuzh. Sehingga nasib adalah bagian dari takdir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar